Langsung ke konten utama

Giat Membawa Nikmat ( Sungai Emas )

Di batas antara daerah Kedu dan Yogyakarta menjulang dua gunung. Merapi dan merbabu seperti sepasang raksasa penjaga gerbang. Kedua raksasa itu sangat besar. Merapi sebagai raksasa laki. Merbabu sebagai raksasa perempuan. Merapi sebagai gunung yang terkenal ganas, sedangkan Merbabu merupakan gunung yang sudah padam apinya.

Gunung Merapi merupakan bahaya tersembunyi. Tidak hanya pada waktu gunung itu meletus, tetapi sepanjang waktu Merapi selalu mengancam. Terlebih lagi pada musim hujan. Ancaman bahaya sangat dahsyat. Tidak dapat diduga kekuatannya namun sungguh mengerikan.

Seperti yang terjadi pada bulan Desember tahun 1975. Hari itu jumat kliwon. Salah satu hari keramat bagi penduduk di kaki gunung Merapi. Sebab pada hari yang sama gunung tersebut pernah menimbulkan bencana besar. Dan kini pada hari keramat itu pula Merapi menimbulkan malapetaka besar.

Pada hari jumat kliwon bulan Desember tahun 1975, sejak pagi huJan lebat. Hujan itu sudah turun terus-menerus selama tiga hari sebelumnya. Air merambah dimana-mana. Sungai-sungai banjir. Dan puncak luapan air terjadi hari jumat kliwon itu. Suara gemuruh terdengar dari lereng gunung. Suara itu sudah dipastikan suara air, tetapi bukan hanya air melulu. Bersama air, pasir, dan batu-batu ikut hanyut. Jutaan meter kubik pasir dan batu bergerak dari lereng gunung. Dengan kekuatan dahsyat dan suara mengerikan bencana terjadi. Batu dan pasir melanda apa saja. Sawah, ladang, kampung-kampung diterjang. Pohon-pohon tumbang dan tertutup pasir dan batu.

Manusia lari ketakutan. Mereka pergi mengungsi. Meninggalkan segala harta miliknya. Satu-satunya yang dipertahankan hanya jiwanya. Harta benda tak peduli ditelan amukan banjir besar. Binatang ternak, hasil tanaman, bahkan rumah dan harta benda hancur musnah. Banjir campur pasir dan batu itu namanya banjir lahar dingin.

Gunung Merapi itu kalau tidak meletus tetap mengeluarkan lahar. Yaitu pasir dan batu panas dari dalam dasar gunung. Pada waktu hari terang, di malam gelap, lahar itu keliatan merah membara. Keluar dari puncak gunung lalu meleleh turun. Mengalir ke bawah jauh sampai ke kakinya. Lahar yang keluar setiap hari itu berkumpul terus. Memenuhi jurang-jurang. Menutup lembah-lembah. Banyaknya jutaan meter kubik. Endapan itu dinamakan lahar dingin. Lahar dingin itulah yang menjadi bahaya besar selain letusan gunung. Sebab dikala turun hujan, lahar itu terbawa air. Pasir dan batu yang jutaan meter kubik memenuhi aliran sungai, sehingga meluap ke mana-mana.

Daerah yang tertimpa bencana di lereng gunung sebelah selatan. Sebab di situ mengalir sungai-sungai Pabelan, Blongkeng dan Krasak. Ketiga sungai itu mengalami perubahan besar. Tebing sungai telah hilang, tertutup pasir dan batu. Permukaan sungai rata dengan daratan sekeliling. Di sana sini hanya pasir dan batu. Ada batu yang sebesar gerobak sapi tergeletak di bekas sawah. Ada yang menimpa kampung. Sedang sawah-sawah telah menjadi lautan pasir.

Di antara kampung yang terlanda banjir namanya kampung Tegalsari. Kampung itu terletak tidak jauh dari jalan besar Magelang Yogya. Kerusakan yang dialami sangat parah. Penduduk telah mengungsi. Sebagai besar kemudian hari ditransmigrasikan ke Lampung. Hanya satu dua keluarga masih ingan menetap. Walaupun sawah ladang maupun rumah telah musnah.

Di antara yang tinggal itu terdapat dua keluarga masih bersaudara. Keluarga Sutajaya dan Somadipa. Sutajaya memiliki tiga anak. Dua laki dan satu perempuan. Yang laki namanya Badar dan Rohib sedang gadisnya bernama Salminah. Mereka sesungguhnya hidup melarat. Sejak sebelum bencana besar itu mereka hidup serba kurang. Tapi dikenal sebagai petani yang rajin, suka bekerja dan hidup hemat.

Sedang Somadipa termasuk orang yang kaya. Sawah ladangnya luas. Anaknya hanya dua orang. Laki-laki dan perempuan. Lakinya bernama Komar sedang adiknya bernama Siti Habsah. Kedua anak itu hidup serba cukup. Somadipa bukan orang yang rajin bekerja. Banyak pula kegemaran yang jelek seperti berjudi dan makan yang enak-enak. Tetapi karena kaya mudah saja mendapatkan uang. Dulunya tanahnya sangat luas. Lalu semakin berkurang setelah sedikit demi sedikit dijual untuk besenang-senang.

Kini keadaan keluarga itu hampir sama saja. Harta mereka telah musnah. Mereka kini membangun dua rumah kecil saja. Bahkan tidak dapat disebut rumah, lebih tepat dinamakan gubuk. Dalam gubuk sempit itu mereka tinggal berdesakan. Dan dengan keadaan serba susah mereka mulai membina hidupnya lagi. Mereka akan mengusahakan sawah ladangnya kembali. Dan inilah salah satu usaha berat bagi mereka sekeluarga. Mereka harus bekerja keras. Hidupnya serba kurang, dan bukan dalam waktu singkat usahanya akan berhasil.

Apa yang harus kita segera usahakan ? tanya Sutajaya kepada Somadipa, Untuk memenuhi kebutuhan !

"Kita harus bekerja ! Jawab Somadipa.

"Tentu saja harus bekerja. Tetapi kerja apa menurut pendapatmu yang menghasilkan uang ?" sambung Sutajaya.

"Aku selama ini tidak menjadi buruh. Kamulah yang sudah bekerja upahan." Somadipa menjawab agak menghina.

Tetapi Sutajaya tidak tersinggung. Ia memang biasa bekerja sebagai buruh. Hanya kini siapa yang akan menyuruh bekerja . Sawah ladang telah musnah. Tentu tidak ada orang yang akan menyuruh bekerja lagi.

Ketika para penderita korban banjir mendapatkan bantuan, tentu saja mereka memiliki persediaan makanan, tetapi hanya sementara. Karena itu mereka harus segera bekerja. Tidak boleh mengharap pemberian bantuan saja.

Selagi Sutajaya merenungi sawahnya yang musnah, ia ditegur seorang yang tidak dikenal.

"Sedang apa pak ?" tanya orang itu ramah.

"Ah ... beginilah nasib saya, sawah milik saya tertimbun pasir ! jawab Sutajaya

"Lalu bapak mau bertanam di pasir itu ?"

"Sudah tentu tidak bisa, " jawab Sutajaya lagi.

"Tetapi sawah bapak bisa saja menghasilkan. Asal bapak mau bekerja." kata orang yang itu memberi harapan.

"Bisa menghasilkan? Digali pasirnya dan menanam lagi ? Memang itu maksud saya. Tetapi pasti lama baru berhasil."

"Ya memang begitu. Tetapi ada yang bapak lupakan !"

"Apa ?"

"Pasirnya, pak !" kata orang itu lagi sambil tersenyum.

"Maksudnya pasir harus diapakan?" Sutajaya belum mengerti.

"Begini pak, " kata orang asing itu memberi tahu dengan menceritakan rencananya.

Sutajaya diajak bekerja sama. Mengumpulkan pasir dan batu sedang orang itu akan menjualnya. Pasir dan batu laku dijual sebagai bahan bangunan. Hanya harus diangkut dan ada pembelinya.  Orang asing itu yang mencari pembelinya dan mengangkutnya. Sutajaya yang harus mengumpulkan bahan itu.
giat membawa nikmat ( Sungai Emas-)
giat membawa nikmat ( Sungai Emas )
Sejak hari itu Sutajaya dan istrinya dibantu anak-anaknya bekerja keras. Sepanjang hari mereka mengeruk pasir. Kemudian menimbun pasir itu ke dekat jalan besar, agar kendaraan mudah mengangkutnya. Timbunan pasir itu berjejer layaknya gunung-gunung kecil. Selain pasir juga dikumpulkan batu. Tumpukan batu diatur dalam meter kubik.

Setelah orang asing yang menjanjikan kepada Sutajaya datang lagi, mereka berhasil mendapat pembeli. Pak Soleh nama orang asing itu. Pak Soleh menemui Sutajaya bersama pemborong bangunan.  Pemborong itu memerlukan pasir dan batu dalam jumlah besar. Puluhan meter kubik pasir dan batu. Sudah tentu besar juga uang yang diterima Sutajaya dan Pak Soleh.

"Sekarang kita bisa menambah tenaga untuk mengumpulkan pasir dan batu lebih banyak." kata Sutajaya

"Ya kita telah punya uang. Kita dapat menggaji orang untuk membantu bekerja. Saya akan mencari pembeli yang lain," pak Soleh memberi tahu rencananya.

"Sungguh tidak saya pikirkan sebelumnya. Sekarang sungai itu ternyata mengalir emas. Pasir dan batu dapat kita rubah jadi emas. Hasil penjualan pasir dan batu itu dapat kita belikan emas. Ah ... bukan main. Sesungguhnya Tuhan Maha Kuasa. Kalau kita mau bekerja keras pasti diberi jalan untuk hidup. Pasti kita diberi Tuhan rejeki banyak."

"Memang begitu, mudah-mudahan setelah kesengsaraan yang kita alami, akan datang masanya untuk berbahagia !" Sambung istri Sutajaya.

Sekarang Sutajaya dan anak istrinya tidak lagi kekurangan. Dengan bekerja sepanjang hari mereka mempunyai hasil besar. Uangnya bertambah-tambah. Akhirnya mereka dapat membangun rumah lagi.

Usahanya bertambah maju. Pak Soleh selalu mempunyai langganan pembeli pasir dan batu yang dikumpulkan Sutajaya. Bahkan kini Sutajaya telah mempunyai tiga orang pembantu. Mereka digaji menurut banyak sedikitnya mengumpulkan pasir dan batu. Semakin banyak yang dikumpulkan, semakin banyak uang yang diperolehnya. Mereka bekerja borongan menurut sedikit banyaknya hasil yang dikumpulkan.

Sutajaya pernah mengajak Somadipa bekerja bersama-sama

Sayang Somadipa menolak. Namun setelah tahu usaha Sutajaya maju, kini Somadipa ingin meniru, tetapi karena dasar pemalas, hasilnya tidak besar. Anak dan istrinya enggan membantu. Untunglah karena pasir dan batu Sekarang laku dijual, maka tanah tertimbun pasir itu laku pula dijual.

Sawah dan ladang yang telah tertimbun pasir kini banyak yang bersedia membeli. Terutama untuk mengeruk pasir dan batunya itu.

Karena Somadipa enggan bekerja sendiri, dijualah tanahnya. Dari hasil penjualan tanah itu Somadipa hidup seperti kebiasaan lama. Makan enak dan berjudi. Kalau uangnya habis dijual lagi tanahnya.

Sutajaya kini mampu membeli tanah yang dijual Somadipa. Sehingga semakin luas tanah yang dimiliki.

Ini berarti semakin banyak persediaan pasir dan batu yang dapat dikumpulkan. Semakin lama usaha Sutajaya bertambah besar. Tanah yang selesai digali pasir dan batunya dapat ditanami lagi. Malah tanah itu menjadi subur. Abu yang tercampur pasir lahar adalah pupuk yang bagus. Dengan sendirinya hasil tanaman tanahnya berlimpah. Hidup Sutajaya berubah serba cukup. Mereka tidak pernah kekurangan. Kebahagiaan itu justru karena adanya banjir.

Kemudian ternyata banjir itu membawa bahagia setelah dilawan dengan kerja keras.

Pengarang ARISWARA

Kisah cerita yang sangat menginspirasi ini sebaiknya menjadi pegangan kita untuk bisa menjadi sukses. Dengan bekerja keras tentunya kita akan mendapatkan hasil yang maksimal, selain itu Tuhan pun akan senang kepada orang yang mau bekerja keras, sehinggga Tuhan pun memberikan balasan berupa hasil yang memuaskan buah dari kerja keras.

Baca juga kisah inspirasi berikutnya

RUMAH MAKAN DI TEPI LAUT PASIR

Komentar