Di istana Surasowan, Sultan Abdulnasar Muhammad Ishak Zainulmuttakin segera memanggil rapat. Sultan Banten itu ingin memebicarakan, di pihak mana Banten harus berdiri. Beberapa hari sebelum peperangan itu Gubernur Jenderal telah minta bantuan dari Batavia. Akan tetapi pimpinan angkatan laut Inggris juga mengirim utusan, bahwa mereka akan menghancurkan angkatan laut Belanda. Sebaiknya Banten tidak memihak Belanda.
" Inggris dan Belanda telah berperang di negeri kita. Asap peperangan itu masih mengepul di Bandar Jayakarta, di barat sana ! Menurut laporan yang kami terima, angkatan laut Belanda kalah. Kapal-kapalnya semua binasa. Bagi kita agar kedua belah pihak hancur tidak jadi soal ! Tetapi yang jadi soal, karena tidak ada yang betul-betul hancur !" Kata Sultan mulai membuka rapat.
Menurut kebiasaannya, Mangkubumilah yang memimpin rapat. Tetapi karena keadaan sangat penting menurut Sultan, ia sendiri lah yang memimpin rapat.
"Beberapa hari sebelum Inggris menyerang Belanda di Bandar Jayakarta itu, Gubernur Jenderal Albert minta bantuan. Seperti tuan-tuan tahu, sudah sejak lama keadaan kita demikian buruk. Belanda menganggap kesultanan Banten adalah miliknya. Kami tidak memberikan bantuan yang diminta itu. Selain kami tidak mau membantu adalah karena Inggris telah memperingatkan kami agar tidak membantu Belanda!" Kata Sultan melanjutkan. Suaranya tegas. Memandang ke semua hadirin satu per satu. Sultan itu memanglah seorang yang berwibawa.
Hadirin hening. Akan tetapi tiba-tiba sultan dihinggapi rasa was-was. Bukan tidak mungkin, diantara menteri dan pangeran-pangeran yang hadir ada yang memihak kepada Belanda. Kalau kata-katanya itu dilaporkan kepada Belanda celakalah ia. Air mukanya jadi keruh.
Mangkubumi Wargadireja dapat menduga apa yang bergumul di dada wsultan itu. Sebagai orang yang selalu mendampingi sultan menjalankan pemerintahan, ia selalu mengetahui semua hal. Sultan tidak pernah berahasia kepadanya.
" Kami kira kata-kata Yang Mulia itu haruslah jadi pemikiran bagi kita semua, " kata Mangkubumi mencoba mengalihkan dan mengarahkan pembicaraan. " Betapa pahitnya penjajahan Belanda sudah sama kita ketahui. Rakyat kita menjadi budak. Kraton kita dijaga. Mereka selalu mencampuri urusan pemerintahan kita. Kita tidak memiliki kemerdekaan lagi. Kita jadi melarat. Kita wajib membayar upeti. Hasil bumi harus kita jual kepada mereka, dengan harga rendah yang mereka tetapkan sendiri pula. Padahal mereka menjual hasil bumi itu dengan harga yang sangat tinggi di Eropa. Sebaliknya harga-harga kain, garam dan perhiasan yang kita beli dari Belanda sangat mahal. Padahal kita hanya boleh membeli dari mereka!"
Mangkubumi Wargadireja melihat, bahwa semua kata-katanya itu diterima oleh hadirin. Karena itu ia lalu meneruskan, " Baik Inggris maupun Belanda datang kemari untuk berdagang dan menjajah. Mereka ingin untung sebanyak-banyaknya. Tidakpeduli penderitaan dan kemelaratan kita ! karena itu pendapat Yang Mulia tadi adalah benar ! kami berpendapat sebaiknya kita tidak memihak. Bahkan kalau mungkin, kita usir kedua belah pihak yang saling baku hantam itu. Mereka baku hantam karena ingin saling berkuasa atas negeri kita. Mereka adalah manusia-manusia serakah!"
" Tapi bagaimana kalau Gubernur Jenderal datang menyerbu ke mari ? Bukankah itu artinya bunuh diri ? kita sudah pastitidak mampu menghadapinya. Sedang Inggris, ternyata tidak mendarat. Mereka tidak memberikan bantuan apa-apa kepada kita. Inggris hanya mempersulit kita saja. Kalau Inggris tidak datang kemari, tentulah keadaan tidak jadi buruk seperti ini!" sela Pangeran Safiuddin putra Sultan Muchidin yang mati terbunuh.
Hati sultan Abdulnasar berdesir, mendengar kata-kata Sultan Muchidin almarhum yang digantikannya itu. Jelas Pangeran itu memihak kepada Belanda.
"Belanda sekarang dalam keadaan lemah. Kalau mereka datang kemari, kita akan hadapi. Kami kita saatnya tepat bagi kita untuk melepaskan diri dari kekuasaan Belanda!" kata sultan dengan tegas dan berani.
"Kami setuju degan pendapat Yang Mulia!" TubagusAli bersembah ke hadapan sultan. " Marilah kita segera menyusun kekuatan. Banten harus bangkit ! Banten yang besar, seperti pada masa moyang kita Fatahillah yang agung dan Hasanuddin yangperkasa!
" Kamisependapat dengan ananda Tubagus Ali! Ya, kita harus segera menyusun laskar! Kita siap menghadapi segala kemungkinan!" kata sultan
"Segala perintah akan kami laksanakan!" Mangkubumi berhatur sembah kepada sultan.
Semua hadirin menyetujuai usul tubagus Ali. Tubagus Ali juga adalah bangsawan tinggi. Ayahnya adalah sultan Abdulmafakhir. Sultan Abdumafakhir inilah yang digantikan oleh Sultan Muchidin ayah Pangeran Safiuddin. Sedang yang membunuh Sultan Muchidin adalah Tubagus Ali sendiri, karena Sultan itu menyuruh dia ikut berbaris-baris bersama prajurit Belanda.
Karena itu saling dendam antara Tubagus Ali dan Pangeran Safiuddin sudah ada. Pangeran Safiuddin dengan cara yang kasar mengingatkan sidang.
"Mangkubumi, tuan seorang cendikia yang banyak mengetahui hal-hal di luar negeri. Apakah sesungguhnya yang terjadi, maka Inggris Belanda itu baku hantam? tanya sultan Abdulnasar.
" Menurut seletingan yang kami dengar, Belanda sekarang sudah dijajah Perancis. Raja Belanda Willem IV melarikan diri kee Inggris. Raja Belanda itu memperbolehkan Inggris menguasai daerah jajahannya, seperti kepulauan Nusantara kita ini. Sudah tentu termasuk, Banten dan Jayakarta! Karena raja Belanda itu telah menggantungkan dirinya kepada Inggris!" kata Mangkubumi dengan suara datar.
"Kalau begitu Belanda yang masih sok kuat itu, tak ada artinya lagi !" teriak Tubagus Ali spontan.
"Tetapi kenapa justru Inggris menghancurkan Belanda di Bandar Jayakarta itu ?" tanya pangeran Ratu, putra sultan yang dari tadi tidak campur bicara.
Sultan Abdulnasar juga ingin bertanya seperti yang ditanyakan oleh putranya itu. Karena itu ia segera berpaling kepada Mangkubumi. Sekarang mereka tidak seperti rapat lagi. Tapi bertukar pikiran.
" Itulah yang kami tidak tahu secara pasti. Tapi menurut dugaan kami, orang-orang Belanda di Indonesia tidak mau menyerahkan Indonesia kepda Inggris. Mereka tentu tahu, bahwa raja mereka hanyalah karena terpaksa mau mengalah kepada Inggris ! Apalagi kalau sampai menyerahkan negeri jajahan sumber kekayaan kepada saingan beratnya selama ini! Karena itu mereka melawan!" kata Mangkubumi Wargadireja.
" Atau, pemimpin-pemimpin Belanda di negeri kita ini, sedah memihak kepada Perancis! karena itu Inggris menyerang Belanda. Dalam pandangan Inggris mereka tidak berperang dengan Belanda tetapi dengan Perancis!" sela Sultan berpikir keras.
"Kami kita itulah yang paling mungkin. Sebab seorang Inggris menyatakan kepada kami, ada kemungkinan negeri kita dikuasai oleh Perancis, kalau mereka tidak keburu mempertahankan negeri ini. Sebab perang di Eropa itu demikian hebatnya. Jenderal Perancis bernama Napoleon, telah mengubrak-ngabrik seluruh negeri itu. Inggris terpaksa mengerahkan segala kekuatan menghadapinya!" kata Mangkubumi.
"Baiklah! Siapa pun yang akan kita hadapi, apakah itu Inggris, Perancis atau Belanda sama saja! yang penting kita segera menyusun kekuatan! Sekaran kami tambah yakin, kita bisa melepaskan diri dari kekuasaan Belanda!" sultan mengakhiri pembicaraan.
Angin Kemarau bertiup kencang, masuk keluar pintu kraton. Suasana di sekitar krator Surasowan terasa lain. Serdadu Belanda tak satu pun yang kelihatan,
" Inggris dan Belanda telah berperang di negeri kita. Asap peperangan itu masih mengepul di Bandar Jayakarta, di barat sana ! Menurut laporan yang kami terima, angkatan laut Belanda kalah. Kapal-kapalnya semua binasa. Bagi kita agar kedua belah pihak hancur tidak jadi soal ! Tetapi yang jadi soal, karena tidak ada yang betul-betul hancur !" Kata Sultan mulai membuka rapat.
Menurut kebiasaannya, Mangkubumilah yang memimpin rapat. Tetapi karena keadaan sangat penting menurut Sultan, ia sendiri lah yang memimpin rapat.
"Beberapa hari sebelum Inggris menyerang Belanda di Bandar Jayakarta itu, Gubernur Jenderal Albert minta bantuan. Seperti tuan-tuan tahu, sudah sejak lama keadaan kita demikian buruk. Belanda menganggap kesultanan Banten adalah miliknya. Kami tidak memberikan bantuan yang diminta itu. Selain kami tidak mau membantu adalah karena Inggris telah memperingatkan kami agar tidak membantu Belanda!" Kata Sultan melanjutkan. Suaranya tegas. Memandang ke semua hadirin satu per satu. Sultan itu memanglah seorang yang berwibawa.
Hadirin hening. Akan tetapi tiba-tiba sultan dihinggapi rasa was-was. Bukan tidak mungkin, diantara menteri dan pangeran-pangeran yang hadir ada yang memihak kepada Belanda. Kalau kata-katanya itu dilaporkan kepada Belanda celakalah ia. Air mukanya jadi keruh.
Mangkubumi Wargadireja dapat menduga apa yang bergumul di dada wsultan itu. Sebagai orang yang selalu mendampingi sultan menjalankan pemerintahan, ia selalu mengetahui semua hal. Sultan tidak pernah berahasia kepadanya.
" Kami kira kata-kata Yang Mulia itu haruslah jadi pemikiran bagi kita semua, " kata Mangkubumi mencoba mengalihkan dan mengarahkan pembicaraan. " Betapa pahitnya penjajahan Belanda sudah sama kita ketahui. Rakyat kita menjadi budak. Kraton kita dijaga. Mereka selalu mencampuri urusan pemerintahan kita. Kita tidak memiliki kemerdekaan lagi. Kita jadi melarat. Kita wajib membayar upeti. Hasil bumi harus kita jual kepada mereka, dengan harga rendah yang mereka tetapkan sendiri pula. Padahal mereka menjual hasil bumi itu dengan harga yang sangat tinggi di Eropa. Sebaliknya harga-harga kain, garam dan perhiasan yang kita beli dari Belanda sangat mahal. Padahal kita hanya boleh membeli dari mereka!"
Mangkubumi Wargadireja melihat, bahwa semua kata-katanya itu diterima oleh hadirin. Karena itu ia lalu meneruskan, " Baik Inggris maupun Belanda datang kemari untuk berdagang dan menjajah. Mereka ingin untung sebanyak-banyaknya. Tidakpeduli penderitaan dan kemelaratan kita ! karena itu pendapat Yang Mulia tadi adalah benar ! kami berpendapat sebaiknya kita tidak memihak. Bahkan kalau mungkin, kita usir kedua belah pihak yang saling baku hantam itu. Mereka baku hantam karena ingin saling berkuasa atas negeri kita. Mereka adalah manusia-manusia serakah!"
" Tapi bagaimana kalau Gubernur Jenderal datang menyerbu ke mari ? Bukankah itu artinya bunuh diri ? kita sudah pastitidak mampu menghadapinya. Sedang Inggris, ternyata tidak mendarat. Mereka tidak memberikan bantuan apa-apa kepada kita. Inggris hanya mempersulit kita saja. Kalau Inggris tidak datang kemari, tentulah keadaan tidak jadi buruk seperti ini!" sela Pangeran Safiuddin putra Sultan Muchidin yang mati terbunuh.
Hati sultan Abdulnasar berdesir, mendengar kata-kata Sultan Muchidin almarhum yang digantikannya itu. Jelas Pangeran itu memihak kepada Belanda.
"Belanda sekarang dalam keadaan lemah. Kalau mereka datang kemari, kita akan hadapi. Kami kita saatnya tepat bagi kita untuk melepaskan diri dari kekuasaan Belanda!" kata sultan dengan tegas dan berani.
"Kami setuju degan pendapat Yang Mulia!" TubagusAli bersembah ke hadapan sultan. " Marilah kita segera menyusun kekuatan. Banten harus bangkit ! Banten yang besar, seperti pada masa moyang kita Fatahillah yang agung dan Hasanuddin yangperkasa!
" Kamisependapat dengan ananda Tubagus Ali! Ya, kita harus segera menyusun laskar! Kita siap menghadapi segala kemungkinan!" kata sultan
"Segala perintah akan kami laksanakan!" Mangkubumi berhatur sembah kepada sultan.
Semua hadirin menyetujuai usul tubagus Ali. Tubagus Ali juga adalah bangsawan tinggi. Ayahnya adalah sultan Abdulmafakhir. Sultan Abdumafakhir inilah yang digantikan oleh Sultan Muchidin ayah Pangeran Safiuddin. Sedang yang membunuh Sultan Muchidin adalah Tubagus Ali sendiri, karena Sultan itu menyuruh dia ikut berbaris-baris bersama prajurit Belanda.
Karena itu saling dendam antara Tubagus Ali dan Pangeran Safiuddin sudah ada. Pangeran Safiuddin dengan cara yang kasar mengingatkan sidang.
"Mangkubumi, tuan seorang cendikia yang banyak mengetahui hal-hal di luar negeri. Apakah sesungguhnya yang terjadi, maka Inggris Belanda itu baku hantam? tanya sultan Abdulnasar.
" Menurut seletingan yang kami dengar, Belanda sekarang sudah dijajah Perancis. Raja Belanda Willem IV melarikan diri kee Inggris. Raja Belanda itu memperbolehkan Inggris menguasai daerah jajahannya, seperti kepulauan Nusantara kita ini. Sudah tentu termasuk, Banten dan Jayakarta! Karena raja Belanda itu telah menggantungkan dirinya kepada Inggris!" kata Mangkubumi dengan suara datar.
"Kalau begitu Belanda yang masih sok kuat itu, tak ada artinya lagi !" teriak Tubagus Ali spontan.
"Tetapi kenapa justru Inggris menghancurkan Belanda di Bandar Jayakarta itu ?" tanya pangeran Ratu, putra sultan yang dari tadi tidak campur bicara.
Sultan Abdulnasar juga ingin bertanya seperti yang ditanyakan oleh putranya itu. Karena itu ia segera berpaling kepada Mangkubumi. Sekarang mereka tidak seperti rapat lagi. Tapi bertukar pikiran.
" Itulah yang kami tidak tahu secara pasti. Tapi menurut dugaan kami, orang-orang Belanda di Indonesia tidak mau menyerahkan Indonesia kepda Inggris. Mereka tentu tahu, bahwa raja mereka hanyalah karena terpaksa mau mengalah kepada Inggris ! Apalagi kalau sampai menyerahkan negeri jajahan sumber kekayaan kepada saingan beratnya selama ini! Karena itu mereka melawan!" kata Mangkubumi Wargadireja.
" Atau, pemimpin-pemimpin Belanda di negeri kita ini, sedah memihak kepada Perancis! karena itu Inggris menyerang Belanda. Dalam pandangan Inggris mereka tidak berperang dengan Belanda tetapi dengan Perancis!" sela Sultan berpikir keras.
"Kami kita itulah yang paling mungkin. Sebab seorang Inggris menyatakan kepada kami, ada kemungkinan negeri kita dikuasai oleh Perancis, kalau mereka tidak keburu mempertahankan negeri ini. Sebab perang di Eropa itu demikian hebatnya. Jenderal Perancis bernama Napoleon, telah mengubrak-ngabrik seluruh negeri itu. Inggris terpaksa mengerahkan segala kekuatan menghadapinya!" kata Mangkubumi.
"Baiklah! Siapa pun yang akan kita hadapi, apakah itu Inggris, Perancis atau Belanda sama saja! yang penting kita segera menyusun kekuatan! Sekaran kami tambah yakin, kita bisa melepaskan diri dari kekuasaan Belanda!" sultan mengakhiri pembicaraan.
Angin Kemarau bertiup kencang, masuk keluar pintu kraton. Suasana di sekitar krator Surasowan terasa lain. Serdadu Belanda tak satu pun yang kelihatan,
Komentar
Posting Komentar