Asap Mengepul di Bandar Jayakarta
Bersamaan dengan turunnya malam, meriam-meriam berdentum-dentum tak henti-hentinya di bandar Jayakarta. Akhirnya perang hebat antara armada laut Inggris dan Belanda meletus juga di bandar itu.
Armada laut Inggris mengepung bandar. Tak satu pun kapal Belanda yang dapat meloloskan diri. Mereka terus-menerus menembakan peluru meriam-meriam kapalnya ke arah pantai. Di pantai puluhan kapal perang Belanda, ratusan kapal-kapal kecil dan perahu semakin terdesak.
Sebaiknya meriam-meriam Belanda dari darat dan laut tidak juga kalah hebatnya. Akan tetapi tembakan-tembakan meriam Inggris lebih gencar dan semakin mendesak. Beberapa kapal Belanda terbakar hebat. Api berkobar dengan hebatnya, asap mengepul ke langit. Langit malam keliatan kemerah-merahan.
Kapal-kapal Belanda yang semakin terdesak itu, tidak dapat mundur lagi. Pantai sudah dangkal. Kalau mundur juga kapal akan terdampar. Sementara itu kapal-kapal perang Inggris tidak memberi kesempatan. Kapal-kapal Belanda yang semakin terpojok itu terus-menerus dihujani meriam.
Pemimpin armada Belanda jadi putus asa. Kapal-kapalnya diperintahkan untuk menerobos secara nekad blokade Inggris itu. Tetapi setiap kapal yang maju, semuanya jadi umpan empuk meriam-meriam Inggris. Kapal itu terbakar. Kemudian tenggelam.
Beberapa kapal Belanda nekad bunuh diri. Kapalnya dilanggarkannya kepada kapal Inggris. Tetapi perbuatan nekad itu juga tidak membawa hasil apa-apa. Kapal-kapal perang dan persenjataan Inggris sudah jauh lebih unggul dari yang dimiliki oleh Belanda.
Gubernur Jenderal Albert Wiese tidak akan menyerahkan Batavia kepada Inggris. Karena itu ia mengerahkan segala kekuatan darat yang masih tersisa untuk memepertahankan pusat pemerintahan Hindia Belanda itu. Sedangkan kepada angkatan lautnya diperintahkan, agar tidak menyerahkan sebuah kapal Belanda pun secara utuh ke tangan Inggris.
Demikianlah, semua kapal Belanda itu akhirnya tenggelam setelah terbakar hebat. Sampai tengah hari asap terus mengepul-ngepul dari kapal yang terbakar dan tenggelam itu.
Angkatan laut Inggris tidak meneruskan peperangan itu ke darat. Akan tetapi mereka bergerak, ke arah timur. Surabaya dan Gresik waktu itu adalah pangkalan Angkatan laut Belanda yang terkuat setelah Jayakarta.
Kapal-kapal Inggris bergerak ke sana. Di sana pun mereka melakukan hal yang serupa. Sejak itu lumpuhlah kekuatan laut Belanda. Padahal kekuatan inilah yang sejak ratusan tahun alat utamanya melakukan perlawanan-rakyat Indonesia. Tujuan angkatan laut Inggris itu sesungguhnya untuk menghancurkan armada laut Belanda.
Inggris tidak mau disaingi sebagai "Raja Lautan". Ia ingin memegang hak monopoli dagang. Selama ini Belanda adalah saingan utamanya. Di kepulauan nusantara sejak lama Belandalah yang berkuasa. Belanda semakin kaya raya. Inggris tidak senang melihatnya. Karena itu semua kapal perang dan kapal dagang Belanda harus ditenggelamkan.
Bersamaan dengan turunnya malam, meriam-meriam berdentum-dentum tak henti-hentinya di bandar Jayakarta. Akhirnya perang hebat antara armada laut Inggris dan Belanda meletus juga di bandar itu.
Armada laut Inggris mengepung bandar. Tak satu pun kapal Belanda yang dapat meloloskan diri. Mereka terus-menerus menembakan peluru meriam-meriam kapalnya ke arah pantai. Di pantai puluhan kapal perang Belanda, ratusan kapal-kapal kecil dan perahu semakin terdesak.
Sebaiknya meriam-meriam Belanda dari darat dan laut tidak juga kalah hebatnya. Akan tetapi tembakan-tembakan meriam Inggris lebih gencar dan semakin mendesak. Beberapa kapal Belanda terbakar hebat. Api berkobar dengan hebatnya, asap mengepul ke langit. Langit malam keliatan kemerah-merahan.
Kapal-kapal Belanda yang semakin terdesak itu, tidak dapat mundur lagi. Pantai sudah dangkal. Kalau mundur juga kapal akan terdampar. Sementara itu kapal-kapal perang Inggris tidak memberi kesempatan. Kapal-kapal Belanda yang semakin terpojok itu terus-menerus dihujani meriam.
Pemimpin armada Belanda jadi putus asa. Kapal-kapalnya diperintahkan untuk menerobos secara nekad blokade Inggris itu. Tetapi setiap kapal yang maju, semuanya jadi umpan empuk meriam-meriam Inggris. Kapal itu terbakar. Kemudian tenggelam.
Beberapa kapal Belanda nekad bunuh diri. Kapalnya dilanggarkannya kepada kapal Inggris. Tetapi perbuatan nekad itu juga tidak membawa hasil apa-apa. Kapal-kapal perang dan persenjataan Inggris sudah jauh lebih unggul dari yang dimiliki oleh Belanda.
Gubernur Jenderal Albert Wiese tidak akan menyerahkan Batavia kepada Inggris. Karena itu ia mengerahkan segala kekuatan darat yang masih tersisa untuk memepertahankan pusat pemerintahan Hindia Belanda itu. Sedangkan kepada angkatan lautnya diperintahkan, agar tidak menyerahkan sebuah kapal Belanda pun secara utuh ke tangan Inggris.
Demikianlah, semua kapal Belanda itu akhirnya tenggelam setelah terbakar hebat. Sampai tengah hari asap terus mengepul-ngepul dari kapal yang terbakar dan tenggelam itu.
Angkatan laut Inggris tidak meneruskan peperangan itu ke darat. Akan tetapi mereka bergerak, ke arah timur. Surabaya dan Gresik waktu itu adalah pangkalan Angkatan laut Belanda yang terkuat setelah Jayakarta.
Kapal-kapal Inggris bergerak ke sana. Di sana pun mereka melakukan hal yang serupa. Sejak itu lumpuhlah kekuatan laut Belanda. Padahal kekuatan inilah yang sejak ratusan tahun alat utamanya melakukan perlawanan-rakyat Indonesia. Tujuan angkatan laut Inggris itu sesungguhnya untuk menghancurkan armada laut Belanda.
Inggris tidak mau disaingi sebagai "Raja Lautan". Ia ingin memegang hak monopoli dagang. Selama ini Belanda adalah saingan utamanya. Di kepulauan nusantara sejak lama Belandalah yang berkuasa. Belanda semakin kaya raya. Inggris tidak senang melihatnya. Karena itu semua kapal perang dan kapal dagang Belanda harus ditenggelamkan.

Komentar
Posting Komentar